Kami menemukan bahwa hutan yang dikelola oleh masyarakat lokal dapat mendukung kehidupan satwa liar seperti halnya kawasan hutan lindung di sekitarnya, terutama ketika hutan-hutan tersebut tetap terhubung dengan baik di seluruh bentang alam. Temuan ini memiliki implikasi penting tentang bagaimana perhutanan sosial dapat dimasukkan ke dalam strategi konservasi di masa mendatang.
Di seluruh dunia, para pemerintah semakin banyak memberikan hak kepada masyarakat lokal untuk mengelola hutan. Indonesia sedang dengan pesat memperluas program perhutanan sosialnya, dengan target menempatkan 12,7 juta hektar hutan (luas yang hampir setara dengan negara Inggris) di bawah pengelolaan masyarakat. Namun, kita masih sangat sedikit mengetahui seberapa baik hutan-hutan yang dikelola masyarakat tersebut mendukung keanekaragaman hayati.
Kami menggunakan lebih dari 100 kamera pengamatan untuk memantau mamalia di dua bentang alam perhutanan sosial yang berbeda di Sumatra. Salah satunya masih sebagian besar tertutup oleh hutan yang terhubung, sementara yang lain merupakan perpaduan antara agroforestri, hutan yang terdegradasi, dan sebagian hutan tua. Di kedua lokasi, kami membandingkan hutan yang dikelola masyarakat dengan kawasan hutan lindung di sekitarnya yang dikelola oleh pemerintah. Kami juga memetakan bentang alam di sekitar setiap lokasi kamera pengamatan untuk memahami bagaimana konektivitas hutan, kualitas habitat, dan aktivitas manusia memengaruhi keberadaan mamalia.

Kami menemukan bahwa hutan yang dikelola masyarakat mendukung jumlah spesies mamalia yang sebanding dengan kawasan hutan lindung. Namun, perbedaan penting muncul untuk hewan yang bergantung pada hutan. Di bentang alam yang sebagian besar masih berhutan, spesies-spesies ini sama beragamnya di hutan yang dikelola masyarakat maupun di kawasan hutan lindung. Di bentang alam yang lebih terfragmentasi, keanekaragamannya lebih rendah.
Faktor yang paling jelas dalam menjelaskan keberadaan mamalia adalah seberapa baik petak-petak hutan saling terhubung. Kualitas hutan, luas tutupan hutan, dan jarak dari aktivitas manusia juga memengaruhi keberadaan satwa liar, namun pengaruhnya lebih kecil.
Temuan kami menunjukkan bahwa nilai konservasi hutan yang dikelola masyarakat bukan hanya bergantung pada bagaimana hutan tersebut dikelola, tetapi juga pada bentang alam tempat hutan tersebut berada. Di bentang alam hutan yang terhubung dengan baik, perhutanan sosial dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi pelestarian keanekaragaman hayati dan mungkin memenuhi syarat untuk mendapat pengakuan dalam kerangka konservasi internasional, seperti Upaya Konservasi Berbasis Kawasan yang Efektif Lainnya (OECMs). Di bentang alam produksi yang lebih terdegradasi, memulihkan dan menghubungkan kembali hutan kemungkinan besar akan memberikan manfaat terbesar bagi satwa liar. Secara keseluruhan, kajian kami menunjukkan bahwa perhutanan sosial dapat bermanfaat baik bagi manusia maupun alam, tetapi mempertahankan keterhubungan hutan adalah kunci untuk mencapai potensi konservasi keseluruhan.